Saturday, June 23, 2018

Textless Talkmore (Bicara atau Chat?)

Minggu pagi, masih cukup mengantuk rasanya sebelum kembali ke rutinitas setelah libur lebaran. Seperti biasanya mengecek hp adalah hal kedua setelah membuka mata. Banyak chat yang belum aku read entah di line, wa, ataupun dm. Isi chatnya seragam "lagi apa?" "Pulang jangan malem-malem" "udah makan belum" "tidur gih" dan seputar itu. Untuk usia 21 tahun kayaknya gak perlu lagi lah untuk menanyakan hal itu lagi. Aku sudah tau apa yang harus aku lakukan, aku gak akan lupa melakukan segala hal itu tanpa diingatkan.
Sekarang ini saya lebih membutuhkan seseorang yang bisa membuat saya nyaman untuk bercerita, tentang apa saja, dimana saja, tanpa takut, tanpa jeda. Aku lebih suka berbincang dengan memandang wajahnya, melihat ekspresinya, dan tertawa bersama. Disela-sela senja dengan secangkir kopi dan perasaan hangat. Aku butuh teman untuk bicara, untuk cerita, untuk membuatnya menjadi lebih sederhana. Dibanding basa basi dengan tawa yang hanya diketik jari. Bukankah lebih indah jika tawa itu nyata dirasa?




Tuesday, June 19, 2018

Apa mau sang hati ?

Sekarang sudah dini hari, selepas ramadhan dan galungan. tapi tampaknya aku masih belum tau apa yang diinginkan sang hati. Sudah berapa hati yang pernah kusinggahi? dan sebanyak itu pula yang pernah menyakiti. Jangan pura-pura tak mengerti, ingat jatuh cinta adalah kerabat dekat patah hati. Jadi jika kamu  jatuh cinta, maka kamu harus menyiapkan sebagian ruang dihatimu untuk disakiti. dan itu yang telah aku lakukan selama ini, membiarkan sebagian ruang hatiku untuk tersakiti. Hal yang paling aku takuti dalam sebuah hubungan adalah sebuah perpisahan, dan lagi-lagi itu yang selalu aku alami. 
Bosan rasanya harus melewati siklus-siklus panjang itu lagi, perkenalan - pendekatan - pacaran - kenal keluarga pacar - pergi kemana-mana - konflik - baikan - konflik - putus. BOSAN. Aku terlalu bosan harus memperkenalkan namaku, dimana rumahku, sedang belajar apa sekarang, film apa yang aku sukai, makanan apa yang aku suka, jam berapa aku tidur, basa-basi pendekatan, harus mengenal keluarga yang baru, mengambil hati orang tuanya, kakaknya, neneknya, semuanya. Aku terlalu lelah untuk cekcok masalah-masalah ini, lalu baikan kembali lalu cekcok lagi dan pada akhirnya harus mengakhiri semua siklus yang sudah dijalani tadi. Dan yang paling membuatku bosan adalah melupakan kenangan itu, kenangan sederhana ketika kami sama-sama saling berjuang tetapi pada akhirnya harus menyerah ditengah jalan. SEMUA ITU SANGAT MEMBOSANKAN
Tiap perpisahan itu terjadi yang ada dalam fikiranku hanyalah kata "yang terbaik gak akan pergi, jika dia pergi berarti dia bukan yang terbaik untukku" sesimpel itu dan lebih mirip kalimat penenang untuk luka hati yang sedang menganga. Pastinya kalian pernah merasa benar-benar capek, jenuh, sakit sesakit-sakitnya. Merasa terlalu lelah untuk menjalin cinta yang salah dan akhirnya memilih sendiri dan kesepian. Dan ya setelah ratusan malam dilewati dan setelah kesendirian yang lama ini akhirnya ada satu hal yang bisa menjadi jalan tengah untuk hati yang tak tau apa maunya ini. Sekarang aku lebih mencoba untuk memperbaiki diriku, meningkatkan kualitas diri karena 'katanya' jodoh adalah cerminan diri kita, jika jodohmu bukan cerminanmu berarti dia adalah pelengkapmu. Aku sedang belajar untuk memaafkan diri dan masalalu yang telah terlewati, membuatnya tidak hanya menjadi bekas luka tapi tinggal menunggu waktu dan yakin jika lukanya akan mengering dan terobati. 
Ya Tuhan, jika memang sudah waktunya maka jatuhkanlah aku sejatuh-jatuhnya pada hati yang tepat.